#
#

1.1 PENDAHULUAN

Technische Hoogeschool te Bandoeng biasa disingkat menjadi TH te Bandoeng, TH Bandung, THB, atau THS, adalah perguruan tinggi teknik pertama sekaligus lembaga pendidikan tinggi pertama di Hindia Belanda yang dibuka sejak 3 Juli 1920 berkedudukan di Kota Bandung, atas prakarsa badan swasta Koninklijk Instituut voor Hooger Technisch Onderwijs in Nederlandsch- Indië. Tanggal inilah yang dijadikan hari jadi dimulainya pendidikan tinggi teknik di Indonesia, yang dimulai dengan program studi (jurusan) teknik sipil dengan pengkhususan bidang jalan dan bangunan air (de afdeeling der weg en waterbouw).

Jika menengok ke belakang, sebenarnya pendidikan formal di Indonesia telah ada sejak tahun 1818 ketika penduduk bumiputra diperbolehkan sekolah di sekolah Belanda dengan peraturan-peraturan mengenai tata tertib yang diperlukan sekolah. Namun ketika itu, kondisi politik masih belum memungkinkan bagi pemerintah kolonial Belanda untuk mewujudkan hal tersebut dikarenakan adanya perang Jawa dan pemberlakuan Cultuur Stelsel (Sistem Tanam Paksa) yang sangat menyita perhatian pemerintah Belanda. Akhirnya pada tahun 1848 barulah hal tersebut dapat terealisasikan. Kemudian tahun 1884, Menteri Tanah Jajahan Belanda, Frans Van de Putte memperkenalkan sistem pendidikan barat yang sebenarnya bertujuan untuk menghasilkan tenaga administrasi Belanda yang terampil, terdidik, dan murah. Namun sistem pendidikan Barat tidak bersifat massal dan berjenjang yang menjangkau seluruh masyarakat Indonesia (pada waktu itu disebut Hindia Belanda).

Barulah pada awal abad ke-19 pemerintah Belanda berhasil menerapkan program pendidikan berjenjang yang berlaku di Hindia Belanda (Indonesia), mulai dari tingkat dasar hingga pendidikan tinggi. Adanya program pendidikan berjenjang salah satunya karena keprihatinan C. Th. van Deventer, seorang ahli hukum yang pernah tinggal di Hindia Belanda yang mengatakan bahwa Belanda telah banyak mengeruk kekayaan alam dari Indonesia dan telah mencapai tingkat kemakmuran yang tinggi sedangkan Indonesia masih terjebak dalam lingkaran kebodohan, kemiskinan, dan kesengsaraan yang berkepanjangan. Ia kemudian mencetuskan suatu gagasan yang dikenal dengan nama Trias Politika Van Deventer, yang   terdiri dari   3   poin   utama yaitu

1